Desa Margodadi menggelar tradisi Nyadran sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus wujud rasa syukur masyarakat menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan penuh kebersamaan, diikuti oleh perangkat desa, tokoh masyarakat, serta warga dari berbagai kalangan.
Nyadran merupakan tradisi turun-temurun yang dilakukan masyarakat Jawa sebagai sarana mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia. Dalam pelaksanaannya, warga Desa Margodadi bersama-sama membersihkan makam, menaburkan bunga, serta menggelar doa bersama agar arwah para leluhur mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, tradisi Nyadran juga menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga. Setelah rangkaian doa selesai, masyarakat berkumpul dan menikmati hidangan yang dibawa dari rumah masing-masing. Suasana kebersamaan dan gotong royong tampak jelas dalam kegiatan ini.
Kepala Desa Margodadi menyampaikan bahwa tradisi Nyadran tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga nilai spiritual dan sosial yang tinggi. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk saling memaafkan, memperkuat persaudaraan, serta mempersiapkan diri secara lahir dan batin dalam menyambut bulan Ramadan.
Dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, Desa Margodadi berharap tradisi Nyadran dapat terus dilestarikan oleh generasi muda sebagai identitas budaya sekaligus sarana memperkuat persatuan masyarakat desa.